Sabtu, 05 November 2016
intensifikasi pertanian
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
A. Intensifikasi
pertanian
merupakan
usaha yang dilakukan petani untuk meningkatkan hasil pertanian dengan cara
mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah tersedia. Intensifikasi dianjurkan
untuk menghasilkan produk pertanian yang tahan penyakit, menghasilkan
buah,sayur dan makanan pokok yang berkualitas tinggi dan unggul. Dalam
pelaksanaan intensifikasi pertanian adakalanya para petani memperhatikan
masalah pengelolaan tanah, pengadaan bibit unggul, penanaman, pemupukkan,
pemberantasan hama serta penyakit pada tanaman, pemanenan dan kegiatan selama
pasca panen. Program Intensifikasi pertanian di Indonesia dilatarbelakangi oleh
keinginan pemerintah dan rakyat untuk memperoleh hasil panen yang layak, cukup
untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, serta mampu untuk program
intensifikasi pertanian diharapkan mampu untuk mengurangi dan mengendalikan
hama tanaman yang sangat merugikan bagi petani, terutama hama jenis wereng,
kutu busuk, kutu buah, ulat daun, serta tikus yang merupakan hewan pengerat dan
sering menurunkan produksi tanaman padi. Program intensifikasi pertanian
terutama untuk meningkatkan produksi padi dibentuk sejak tahun 1960 melalui
program BIMAS (Bimbingan Massal). Dalam proses perkembangannya, ternyata
masyarakat Indonesia sangat dikeluhkan dengan adanya program intensifikasi pertanian
terutama untuk padi. Sebab, para petani dirugikan dengan adanya berbagai hama
pengganggu tanaman sehingga pada tahun 1961, 1962 hingga 1969 produksi padi
para petani Indonesia banyak yang mengalami serangan hama, serta tak heran jika
banyak yang gagal panen. Akibat peristiwa ini, pemerintah mulai berupaya untuk
mencarikan solusi atas permasalahan tersebut, sehingga pada tahun 1970 hingga
1980, pemerintah membuka ruang kepada rakyat untuk mengatasi masalah hama pada
tanaman padi yakni dengan menggunakan berbagai jenis dan formulasi pestisida
dengan beranekaragam bahan aktifnya. Pada saat itu, penggunaan pestisida
dilakukan untuk memberantas hama penggangu tanaman, namun bukan untuk mencegah
atau mengendalikan agar hama tanaman tidak timbul kembali dan merusak tanaman.
Pada tahun 1970,
1971, hingga 1979, penggunan pestisida di kalangan petani sangat meningkat
tajam, sehingga pada saat itupula produksi bahan makanan, seperti hasil
pertanian kentang, ubi, padi, dan berbagai macam buah lainnya mencapai 34%, dan
penggunaan pestisida pada saat itu terbukti mampu mematikan hama tanaman.
Namun, dengan penggunaan pestisida yang berlebihan di kalangan para petani
Indonesia ternyata memberikan efek sangat buruk bagi lingkungan dan manusia itu
sendiri. Sehingga pada tahun 1990 ke atas, penggunaan pestisida mulai dikurangi
bahkan dilarang dengan alasan bahwa pestisida mampu mempercepat laju pencemaran
udara dan pencemaran tanah, menimbulkan berbagai penyakit yang diderita oleh
manusi jika terpapar oleh senyawa pestisida terutama bagi para petani maka
akibatnya adalah kulit mengalami iritasi, mata merah dan berair, keracunan
makanan akibat senyawa pestisida yang bercampur. Dan efek buruk lainnya dari
penggunaan pestisida yakni dapat meracuni buah dan sayur. Jika pestisida masuk
dan terakumulasi di dalam daging buah dan dikonsumsi manusia, maka kemungkinan
besar yang mengonsumsi makanan yang tercemar pestisida tersebut akan mengalami
penyakit kanker, jika pada laki-laki menyebabkan prilakunya menjadi
kewanita-wanitaan, dan lain sebagainya.
Ada beberapa
langkah penting untuk melaksanakan intensifikasi pertanian secara menyeluruh
yakni dengan program "Panca Usaha Tani" atau "Lima Usaha
Tani". Panca usaha tani ini berkembang pesat pada era pemerintahan
presiden Soeharto yang merupakan bagian dari REPELITA pembangunan pertanian
sangat digalakkan pada saat itu. Berikut ini panca usaha tani yang dapat
dilakukan diantaranya:
1. Pemilihan dan
Penggunaan Bibit Unggul
Sebelum
memanfaatkan lahan pertanian secara baik, maka para petani sebaiknya
menggunakan bibit unggul baik yang dihasilkan dari hasil panen bibit sebelumnya
atau ketika dibeli di pasaran. Bibit unggul menjadi kunci penting untuk
menghasilkan tanaman yang berkualitas, tanaman subur, sehat, tinggi, berbuah
bagus, akarnya kokoh, serta tahan terhadap berbagai macam serangan hama dan
penyakit. Bibit unggul yakni jenis bibit yang disiapkan dan memiliki keunggulan
dibandingkan varietas lainnya seperti bibit yang tahan terhadap penyakit dan
jamur, bibit yang memiliki produktivitas tinggi, daya vigor tinggi, peka
terhadap rangsangan pupuk, fase juvenile yang singkat, serta mempunyai
keberanekaragaman bentuk, ukuran, dan warna. Contoh bibit unggul seperti pada
padi IR 64, PB 4, pada bibit padi
rajalele, dan jagung tongkol (untuk produksi bahan makanan pokok).
2. Pengelolaan
Lahan dan Tanah Pertanian Secara Tepat dan Terencana
Setelah
memperoleh bibit unggul, langkah selanjutnya yakni mengelola tanah untuk
dipakai dalam penyemaian bibit dan media tumbuh kembang bibit hingga proses pemanenan.
Untuk mengelola lahan pertanian dapat ditempuh melalui cara modern dan
konvensional (tradisional/manual). Cara modern dapat ditempuh dengan
menggunakan cara mekanik yakni menggunakan traktor yang sudah modern, sedangkan
cara manual/konvensional dapat dilakukan dengan menggunakan alat seperti
cangkul. Metode tradisonal menggunakan cangkul memiliki kelemahan yakni sangat
tidak efisien dan membutuhkan waktu cukup lama untuk menggarap lahan pertanian.
3. Pengaturan
Irigasi atau Saluran Air
Pengaturan
pasokan air yang dialirkan ke lahan-lahan pertanian sangat penting untuk
membuat struktur dan komponen tanah menjadi lembab dan berair sehingga akan
memberikan nutrisi dan menjaga tanaman agar tetap sehat, tidak layu, dan
kelangsungan hidupnya terjaga dengan baik. Sebaiknya gunakan air secukupnya dan
berdasarkan kebutuhan untuk dialiri di lahan pertanian. Umumnya pemberian air
tidak boleh melebih titik layu lahan. Dan pasokan air yang cukup di atas lahan
sangat penting untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta
meningkatkan produktivitas panen nantinya.
4. Pemberian
Pupuk Pada Dosis Yang Tepat
Tanpa
pemberian pupuk buatan, sebenarnya tanah sendiri sudah memiliki unsur hara
esensial bagi tanaman. Pemberian pupuk tambahan dilakukan dengan melihat usia
tanaman serta menempatkan pupuk pada jarak tertentu. Terkadang para petani jika
memberikan pupuk terlalu dekat dengan akar tanaman, maka tak menutup
kemungkinan tanaman tersebut akan layu dan berujung pada kematian tanaman, oleh
karena itu memberi jarak yang cukup saat pemupukan tanaman sangat penting.
Pemberian pupuk pada tanaman dapat dengan menggunakan pupuk dari kotoran hewan
ternak, seperti pupuk kandang yang memiliki komposisi dari feses
kambing,ayam,unta,sapi dan lainnya. Pupuk kompos dan NPK buatan yang berasal
dari sisa-sisa dedaunan juga penting sebagai tambahan nutrisi bagi tumbuhan.
Pemberian pupuk perlu melihat usia tanaman yang akan diberi pupuk, dosis, serta
cara dan jenis pupuk yang hendak ditambahkan pada tumbuhan. Sehingga jika pemberian
pupuk tidak tepat akan berefek pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
5. Pemberantasan
Organisme Penggangu Tanaman
Pemberantasan
organisme pengganggu tanaman bertujuan sebagai pemeliharaan tanaman. Sebab,
masalah yang umum dihadapi oleh para petani yakni hama dan penyakit pada
tanaman. Hama tanaman yang sangat mengganggu terutama ulat dan wereng yang
merusak struktur daun, serta gulma yang menggangu pada taanaman untuk tumbuh
dan berkembang. Terkadang penggunaan pestisida kimia tidak semata-mata untuk
memberantas hama, dapat juga menggunakan pestisida alami, misalnya dengan
menggunakan predator alami (misalnya: Ular untuk memutus mata rantai
perkembangan tikus di sawah agar produktivitas panen padi meningkat), sehingga
keseimbangan eksositem terus terjaga dengan baik.
Adanya
intensifikasi pertanian tentunya memiliki dampak nyata di dunia pertanian.
Tentunya intensifikasi pertanian memiliki dampak positif dan dampak negatif.
Dampak positif dengan adanya intensifikasi pertanian yakni produksi panen
menjadi meningkat akibat pemilihan benih bibit yang berkualitas, ekosistem di
lahan pertanian menjadi stabil, hasil panen rata-rata meningkat seperti yang
pernah terjadi 1960-1970 sehingga produksi makanan pernah meningkat hingga 34%
dan mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional. Sementara itu dampak negatif dari
adanya intensifikasi pertanian seperti; (1) Dampak pengelolaan tanah yang
kurang diperhatikan dapat merusak struktur tanah dan ini banyak terjadi pada
saat penggunaan alat berat seperti traktor. (2) Dampak buruk pemupukan secara
terus-menerus dan tidak terkendali secara baik dapat menyebabkan tanah menjadi
asam sehingga pH tanah menjadi menurun, sehingga hasil pertanian tidak
produktif. Termasuk unsur hara Nitrogen yang terkandung di dalam pupuk dapat
menyebabkan terbentuknya larutan nitrit di dalam tanah yang dapat meresap di
sumur warga sekitar daerah pertanian. (3) Dampak dari penggunaan pestisida
berlebih dapat menyebabkan hama dan gulma menjadi resiste (kebal terhadap
senyawa obat/pestisida), terjadinya resurgensi (hama timbul kembali),
terjadinya ledakan populasi hama terutama yang umum adalah hama ulat dan
wereng, keracuanan serta iritasi kulit pada manusia, terjadinya pencemaran
udara, air, dan tanah, serta berefek buruk bagi daging buah/sayur yang terpapar
senyawa kimia pestisida (dapat meracuni hasil panen;buah,sayur,dan sebagainya).
B.
Ekstensifikasi Pertanian
Ekstensifikasi
pertanian yaitu perluasan areal pertanian ke wilayah yang sebelumnya belum
pernah dimanfaatkan manusia. Program ekstensifikasi pertanian memiliki sasaran
terhadap lahan-lahan seperti lahan hutan, padang rumput steppe, lahan gambut
pada rawa-rawa, serta bentuk-bentuk lain pada tanah marginal (lahan
terpinggirkan). Dalam peristilahan internasional dikenal dengan
"agricultural (land) expansion". Ekstensifikasi pertanian bertujuan
untuk mengatasi masalah kurangnya lahan produktif pertanian, perluasan lahan
dilakukan dengan mencari lahan-lahan baru yang bisa ditanami tanaman dan menghasilkan
nilai tambah dari hasil panen untuk memenuhi kehidupan masyarakat.
Ekstensifikasi pertanian biasanya dilakukan di wilayah-wilayah Indonesia
seperti Irian Jaya, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.
Ekstensifikasi
pertanian dapat dilakukan oleh petani itu sendiri atau melalui perantara
pemerintah sebagai pusat penyelenggara. Namun, biasanya ekstensifikasi
pertanian ini dilakukan sendiri (oleh petani), berkesimabungan, dan adanya
pengawasan dari pemerintah setempat. Berikut ini macam-macam dari ekstensifikasi
pertanian yang masih terus diterapkan pada pertanian Indonesia.
1. Perluasan
Lahan Pertanian dengan Pembukaan Hutan Baru
Sistem
nomaden (berpindah-pindah) lahan pertanian sudah sering dilihat pada para
petani Indonesia. Sistem pertanian nomaden sudah dilakukan oleh petani
Indonesia sejak dulu. Cara pertanian nomaden dilakukan secara serentak terhadap
lahan tertentu, atau sendiri-sendiri yakni dengan cara membakar tumbuhan di
sekitar lahan, kemudian tanahnya digarap dan atau dicangkul kemudian ditanami
berbagai jenis sayur mayur, tanaman buah, tanaman obat dan jenis lainnya.
Keuntungan dari pembukaan lahan hutan untuk lahan pertanian yakni tingkat
kesuburan lahan masih tinggi akibat banyaknya dedaunan yang menyusun komposisi
tanah di dalamnya.
2. Perluasan
Lahan Pertanian dengan Pembukaan Lahan Kering
Perluasan
lahan pertanian dengan pembukaan lahan kering dapat dilakukan dengan penangan
khusus. Lahan kering maksudnya yaitu lahan atau tanahnya kering, tandus, atau
tanahnya kurang subur akibat sedikitnya kandung unsur hara. Dalam
pemanfaatannya, lahan kering dapat dimanfaatkan dengan penambahan jenis tanaman
yang dapat meningkatkan kesuburan tanah di lokasi itu yakni dengan menanam
berbagai tumbuhan seperti kacang-kacangan, pohon lamtoro, dan dapat menambah
nutrisi dalam tanah berupa tambahan air, pupuk.
3. Perluasan
Lahan Pertanian dengan Pembukaan Lahan Gambut pada Tanah Rawa
Lahan
gambut umumnya tersebar di wilayah atau daerah rawa-rawa. Di tanah gambut,
sangat potensial jika ditanami jenis tumbuhan tertentu sehingga dapat
meningkatkan produksi panen. Di tanah gambut beberapa jenis tanaman yang dapat
ditanam yakni kangkung, genjer, tanaman pakis, dan padi. Di Indonesia yang
memiliki lahan gambut/berawa banyak terdapat di Kalimantan dan Sumatera.
Adanya
ekstensifikasi pertanian tentunya memberikan dampak positif dan dampak negatif.
Salah satu dampak postifinya yakni lahan yang kering,gersang,tandus dapat
dioptimalkan kembali fungsinya sehingga dapat ditanami berbagai jenis tanaman
yang dapat meningatkan produktivitas panen untuk memenuhi kebutuhan hidup
masyarakat. Sementara itu untuk dampak negatif diantaranya; (1). Terjadinya
kerusakan ekosistem pada lahan-lahan tertentu. Dapat kita lihat misalnya pada
lahan hutan yang sebenarnya hutan itu sendiri memiliki banyak flora dan fauna
yang ada di dalamnya. Jika hutan dihabisi, pohon-pohonnya ditebang atau
dibakar, maka kemungkinan besar hewan-hewan yang tinggal di ranting-ranting
pohon dan sekitaran hutan tersebut akan kehilangan habitat asli mereka, sehingga
kepunahan jenis di hutan tersebut kemungkinan besar akan terjadi. (2).
Berkurangnya habitat alami hewan di alam. Hal ini dapat kita lihat pada saat
penebangan pohon, pembakaran hutan, dan pembangunan gedung-gedung, sehingga
hewan-hewan asli penghuni habitat di wilayah tersebut akan kehilangan tempat
tinggal, serta aktivitas kesehariannya pun mulai terganggu dan rusak. (3)
Terjadinya pemanasan global (Global Warming) karena aktivitas pembakaran dan
penyempitan hutan dan pepohonan yang semakin sulit ditemui.
C. Diversifikasi
Pertanian
Diversifikasi
pertanian yakni pemanfaatan lahan pertanian untuk dua kepentingan yang memiliki
daya guna sekaligus. Hal ini bertujuan untuk menghindari ketergantungan dari
satu hasil pertanian, artinya petani dapat menggunakan satu lahan untuk dua
kepentingan bisnis misalnya dapat ditempuh dengan berbagai cara seperti; (1)
Memperbanyak jenis kegiatan pertanian; Contohnya: selain petani menanam jagung,
juga petani tersebut berternak itik dan maupun berternak ikan, membuka tambak.
(2) Memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan tertentu; Contohnya: Dalam
sebuah ladang, selain ditanami singkong, juga ditanamai padi ladang, atau juga
ditanamai jagung, tanaman palawija, kacang tanah, sayur-mayur, ubi jalar, dan
lain sebagainya.
Diversifikasi
pertanian sangat penting dilakukan oleh para petani untuk menghasilkan produksi
panen yang banyak dan beragam dari hanya memiliki satu lahan saja. Dari
kegiatan Diversifikasi pertanian tentu petani banyak diuntungkan karena selain
mendapatkan hasil panen beragam, juga kesejahteraan hidup (penghasilan berupa
uang) akan semakin banyak sehingga dapat mengurangi tingkat kemiskinan di
kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, kegiatan diversifikasi
pertanian dapat menambah pengalaman masyarakat petani untuk dapat mengelola
lahan dengan berbagai teknik, serta pengetahuan untuk memberi nilai jual dan
peluang menghasilkan banyaknya upah pertanian semakin meningkat.
Diversifikasi
pertanian terbukti mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk bertani.
Sebab pekerjaan seperti mencangkul, menanam buah dan sayur mayur tidak hanya
ditugaskan kepada petani semata. Seorang guru, siswa, pekerja kantor, dan
apapun jenis profesi dapat melakukan program diversifikasi pertanian, contohnya
yaitu menanam berbagai jenis tanaman obat, sayur, bunga, dan sebagainya di
lahan yang terdapat di halaman rumah, dan lingkungan sekolah. Hal ini penting
untuk melatih manusia untuk memiliki jiwa tani.
pupuk cair organik
PUPUK
CAIR
MANAJEMEN TEKNOLOGI
AGRIBISNIS
Disusun
Oleh :
REPI YANA
14542010309
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ANTAKUSUMA
PANGKALAN
BUN
2016
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar……………………………………………………..............…………..i
Daftar
Isi………………………………………………………………….............……ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang…………………………………….…...........……………1
1.2 Rumusan
Masalah……………………………..…………….........………1
1.3 Tujuan........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jamur
Tiram....………….…………...………...…….............3
2.2 Alat dan
Bahan.........................................................................................4
2.3 Proses
Pencampuran Bahan......................................................................5
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan………………………………………………………............6
3.2
Saran.........................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kotoran sapi, urin dan susu dapat
diolah menjadi pupuk cair, sebagai sumber nutrisi tanaman. Kotoran sapi
merupakan bahan yang baik untuk pupuk cair karena relatif tidak terpolusi logam
berat dan antibiotik. Kandungan fosfor yang rendah pada pupuk kandang dapat
dipenuhi dari sumber lain.
Penggunaan pupuk
cair tidak hanya sebagai penyedia unsur hara, tetapi lebih diutamakan
untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Telah terbukti bahwa produk
organikterutama pupuk cair, mampu menjaga kesimbangan alam. Bahan organik
seperti kompos memiliki peran penting dalam menjaga efektivitas dan efisiensi
penyerapan unsur haradalam tanah. Tidak hanya itu, pupuk cair dapat pula
meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah dalam menahan
air, meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah, serta mampu meningkatkan pH
pada tanah asam. Berdasarkan beberapa di atas, maka hal inilah yang
melatarbelakangi dibuatnya makalah pada Mata Kuliah Manajemen Ternak Perah
mengenai Pembuatan Pupuk cair.
Tujuan Pembuatan Pupuk Cair adalah
untuk memanfaatkan limbah organik ternak sebagai sumber daya alam yang berdaya
guna tinggi (pupuk organik) dan untuk mengurangi polusi lingkungan yang
diakibatkan oleh ternak.
Adapun kegunaan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memanfaatkan
limbah organik ternak menjadi pupuk Cair sehingga tidak dipandang sebagai
sampah dan polusi lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang
bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke dalam tanah ataupun
tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia,
dan biologi tanah, atau kesuburan tanah. Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni
pupuk organik dan pupuk anorganik.
2.2 Pupuk
organik
Pupuk organik adalah pupuk yang
terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan
(dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Pupuk organik mempunyai komposisi
kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut
rendah.Adapun jenis-jenis dari pupuk organik itu sendiri seperti pupuk kandang,
pupuk kompos, pupuk cair, dan sebagainya.
2.3 Pupuk cair organik
Pupuk organik cair adalah pupuk
berfasa cair yang dibuat dari bahan-bahan organik melalui proses pengomposan.
Terdapat dua macam tipe pupuk
organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk
organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi
atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk
hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair
semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya
saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh
yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk.Pupuk cair tipe ini
suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak bisa
menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus
langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk
pada permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.
Kedua adalah pupuk organik cair yang
dibuat dari bahan-bahan organik yang difermentasikan dalam kondisi anaerob
dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari material organik yang belum
terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk cair tipe ini
benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak
mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk
cair yang dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air.
2.4 Kandungan Unsur Hara Pupuk Cair
Limbah ternak berupa fase dan urine
mengandung nitrogen dan fosfor yang sangat tinggi. Kandungan ini dibutuhkan
oleh tumbuhan sehingga dijadikan bahan dasar pembuatan kompos .
Secara kimiawi pupuk organik yang
baik mengandung beberapa unsur hara seperti Nitrogen (N) = 1.5 – 2%, fosfor (P205)
= 0,5 – 1% dan kalium (K20) = 0,5 – 1%.
Menyatakan bahwa urine ternak umumnya
memiliki kandungan hara yang lebih tinggi dibandingkan kototran padat, sehingga
pada aplikasinya tidak sebanyak penggunaan pupuk organik padat.
Unsur-unsur mineral dalam air susu
yang relatif terdapat dalam konsentrasi yang cukup tinggi yaitu Kalsium 0,112%,
Phosfor 0,095%, Kalium 0,138%, Magnesium 0,013%, Natrium 0,095%, Klorin0,109%,
dan Beelerang 0,01%. Unsur-unsur yang terdapat dalam konsentrasi yang rendah
yaitu Besi 3,0ppm, Siolikon2,0ppm, Tembaga 0,3ppm dan
Fluorin 0,25ppm. Sedangkan unsur-unsur mineral klumit atau ”trace-element” dalam
susu adalah aluminium, mangan, jod, boron, titanium, vanadium, lithiumdan strontium . Susu
sapi kaya akan mineral Ca, P, K, Cl, dan Zn; tetapi rendah akan mineral Mg, Fe,
Cu, dan Mn. Dedak yang tersedia untuk peternak merupakan sumber P yang baik
untuk ruminansia.
2.5 Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses pembuatan pupuk cair organik
Pembuatan pupuk organik cair dipengaruhi oleh beberapa faktor :
> Nilai C/N Bahan
C/N berfungsi untuk meningkatkan
kesuburan pada tanah. Penambahan bahan organik dengan nisbah C/N tinggi
mengakibatkan tanah mengalami perubahan imbangan C/N dengan cepat, karena
mikroorganisme tanah menyerang sisa pertanaman. C/N juga berfungsi untuk
menyeimbangkan ketersediaan nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
Apabila bahan organik yang diberikan ke tanah mempunyai nisbah C/N tinggi, maka
mikroorganisme tanah dan tanaman akan berkompetisi memanfaatkan nitrogen dan
tanaman selalu kalah disamping karbohidrat yang dijadikan sebagai sumber
energi dan pertumbuhan mikroba, ternyata juga dibutuhkan N dan P.
Bahan-bahan yang terakhir ini diasimilir menjadi bahan tubuhnya. Dengan jalan ini
protein tumbuhan dialihkan menjadi protein mikroba.
Rasio C/N yang efektif untuk proses
pembuatan pupuk cair berkisar antara 30:1 hingga 40:1. Pada rasio C/N di antara
30 hingga 40, mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis
protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk
sintesis protein sehingga dekomposisi lambat. Selama proses itu, rasio C/N akan
terus menurun.Pupuk cair yang langsung dapat digunakan memiliki rasio C/N nya
kurang dari 20.
Perbandingan dari C/N pupuk cair
dapat diperhitungkan dari berbagai senyawa yang menyusun unsur hara
tanah. Unsur har tanah rata-rata mengandung bahan-bahan sebagai berikut :
|
Bahan
|
Komposisi
|
Kandungan C
|
|
Lignin
|
45%
|
28.80%
|
|
Protein
|
35%
|
17.50%
|
|
Karbohidrat
|
11%
|
4.84%
|
|
Lemak, Damar dan Lilin
|
3%
|
2.10%
|
|
Tidak diketahui
|
6%
|
3.00%
|
|
TOTAL
|
100%
|
56.24%
|
Total kandungan karbon dalam unsur
hara tanah adalah 56.24 persen. Sementara itu Kadar N dalam protein adalah 16
persen, sedangkan unsur hara mengandung 35 persen protein, jadi kadar N dalam
unsur hara adalah 35 x 0.16 = 5.6 persen. Oleh karena itu hasil bagi C/N
rata-rata adalah 56.24 / 5.6 = 10.04 persen. Hubungan C dan N ini di
dalam unsur hara berada dalam keadaan hampir konstan, berada pada nilai antara
10 sampai 12.Oleh karena itulah nilai C/N ratio 10 - 12 ini dapat dianggap
sebagai acuan dalam pembuatan pupuk. Dari hasil penelitian dan uji coba
pembuatan pupuk, telah diketahui bahwa untuk mendapatkan C/N ratio 10 –
12, maka diperlukan campuran bahan baku dengan C/N ratio 30.
|
Jenis Bahan Organik
|
Kandungan C/N
|
|
Urine ternak
|
0,8
|
|
Kotoran ayam
|
5,6
|
|
Kotoran sapi
|
15,8
|
|
Kotoran babi
|
11,4
|
|
Kotoran manusia (tinja)
|
6-10
|
|
Darah
|
3
|
|
Tepung tulang
|
8
|
|
Urine manusia
|
0,8
|
|
Eceng gondok
|
17,6
|
|
Jerami gandum
|
80-130
|
|
Jerami padi
|
80-130
|
|
Ampas tebu
|
110-120
|
|
Jerami jagung
|
50-60
|
|
Sesbania sp.
|
17,9
|
|
Serbuk gergaji
|
500
|
|
Sisa sayuran
|
11-27
|
Tabel 1. Kandungan C/N dari
berbagai sumber bahan organic
A.Kandungan NPK
Pupuk yang sudah matang
memiliki kandungan hara kurang lebih: 1,69% N, 0,34% P2O5, dan 2,81% K. dengan
kata lain, dalam seratus liter pupuk cair setara dengan 1,69 liter urea, 0,34
liter SP-36, dan 2,81 liter KCl.
Nitrogen (N) berperan penting dalam
merangsang pertumbuhan vegetatif dari tanaman. Selain itu N merupakan penyusun
plasma sel dan berperan penting dalam pembentukan protein.
Fosfor (P) adalah unsur hara makro
kedua setelah nitrogen yang banyak dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya dan
diserap tanaman dalam bentuk ion. Sumber utama fosfor di dalam tanah berasal
dari pelapukan mineral-mineral yang mengandung fosfat.
Kalium (K) adalah unsur hara makro
yang banyak dibutuhkan tanaman, dan diserap tanaman dalam bentuk ion K+. Di
dalam tubuh tanaman kalium bukanlah sebagai penyusun jaringan tanaman, tetapi
lebih banyak berperan dalam proses metabolisme tanaman seperti mengaktifkan
kerja enzim, membuka dan menutup stomata, transportasi hasil-hasil
fotosintesis, dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan
penyakit tanaman.
B.Ukuran bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil
akan lebih cepat proses pengomposan pupuknya karena semakin luas
bahan yang tersentuh bakteri.
C. Komposisi bahan
Pembuatan pupuk cair dari beberapa
macam bahan akan lebih baik dan lebih cepat. Pembuatan pupuk bahan organik dari
tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan kotoran hewan.
D.Suhu
Faktor suhu sangat berpengaruh
terhadap proses pembuatan pupuk karena berhubungan dengan jenis mikroorganisme
yang terlibat. Suhu optimum untu pembuatan pupuk adalah 40-60 0C. Bila suhu
terlalu tinggi mikroorganisme akan mati. Bila suhu relatif rendah
mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.
E.Sifat dan karakteristik pupuk
organik cair
Pupuk organik cair tidak bisa
dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam. Sebaiknya gunakan pupuk organik
padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat akan tersimpan lebih lama
dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang panjang.
Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun
di sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.
Jenis pupuk cair lebih efektif dan
efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan batang dibanding pada media
tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair bisa berfungsi
sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat
perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah
dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan
melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya.
Pemberian pupuk organik cair lewat
daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai overdosis, karena bisa mematikan
tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan mengundang hama dan
penyakit pada tanaman
Setiap tanaman mempunyai kapasitas
dalam menyerap nutrisi sebagai makanannya. Secara teoritik, tanaman hanya
sanggup menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah tidak lebih dari 2% per
hari. Pada daun, meskipun kami belum menemukan angka persisnya, bisa
diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2%. Oleh karena itu pemberian pupuk
organik cair pada daun harus diencerkan terlebih dahulu.
Karena sifatnya sebagai pupuk
tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan unsur hara mikro. Sementara
unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah, pupuk organik cair
harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan kandungan hara
mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk.
Cara membuat pupuk organik cair
- Siapkan
bahan-bahan berikut: 1 karung kotoran ayam, setengah karung dedak, 30 kg
hijauan (jerami, gedebong pisang, daun leguminosa), 100 gram gula merah, 50 ml
bioaktivator (EM4), air bersih secukupnya.
- Siapkan
tong plastik kedap udara ukuran 100 liter sebagai media pembuatan pupuk, satu
meter selang aerotor transparan (diameter kira-kira 0,5 cm), botol plastik
bekas akua ukuran 1 liter. Lubangi tutup tong seukuran selang aerotor.
- Potong
atau rajang bahan-bahan organik yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan
kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian
air. Kemudian aduk-aduk hingga merata.
- Larutkan
bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata.
Kemudian tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk.
- Tutup tong dengan
rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang. Rekatkan
tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang
lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.
- Pastikan
benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi
selang adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang
dihasilkan tanpa harus ada udara dari luar masuk ke dalam tong.
- Tunggu
hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau
adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.
- Pisahkan
antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain.
Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.
- Masukkan
cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup
rapat. Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik,
pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.
Standar Kualitas Pupuk Organik Cair
|
No
|
Parameter
|
Satuan
|
Min
|
Maks
|
|
1
|
Kadar Air
|
%
|
50
|
17
|
|
2
|
Temperatur
|
Suhu air tanah
|
||
|
3
|
Warna
|
kehitaman
|
||
|
4
|
Bau
|
Berbau tanah
|
||
|
5
|
Ukuran partikel
|
Mm
|
0.55
|
25
|
|
6
|
Kemampuan ikat air
|
%
|
58
|
|
|
7
|
pH
|
6.80
|
7.49
|
|
|
8
|
Bahan asing
|
%
|
1.5
|
|
|
Unsur makro
|
||||
|
9
|
Bahan organik
|
%
|
27
|
58
|
|
10
|
Nitrogen
|
%
|
0.40
|
|
|
11
|
Karbon
|
%
|
9.80
|
32
|
|
12
|
Phosphor
|
%
|
0.10
|
|
|
13
|
C/N rasio
|
10
|
20
|
|
|
14
|
Kalium
|
%
|
0.20
|
|
|
Unsur lain
|
||||
|
25
|
Calsium
|
%
|
||
|
26
|
Magnesium
|
%
|
0.60
|
|
|
27
|
Besi
|
%
|
2.0
|
|
|
28
|
Alumunium
|
%
|
2.20
|
|
|
29
|
Mangan
|
%
|
0.10
|
|
|
Bakteri
|
||||
|
30
|
Fecal coli
|
MPN/gr
|
1000
|
|
|
31
|
Salmonella
|
MPN/gr
|
3
|
|
SNI : 19-7030-2004
(Badan Standarisasi Nasional, 2011).
2.6 Aplikasi/Penggunaan pupuk
organik cair
Pupuk organik cair diaplikasikan
pada daun, bunga atau batang. Caranya dengan mengencerkan pupuk dengan air
bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada tanaman. Kepekatan pupuk
organik cair yang akan disemprotkan tidak boleh lebih dari 2%. Pada kebanyakan
produk, pengenceran dilakukan hingga seratus kalinya. Artinya, setiap 1 liter
pupuk diencerkan dengan 100 liter air.
Untuk merangsang pertumbuhan daun,
pupuk organik cair bisa disemprotkan pada tanaman yang baru bertunas. Sedangkan
untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk disemprotkan saat perubahan fase
tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan langsung pada bunga ataupun
pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya dilakukan dengan interval
waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada musim hujan. Namun
dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan disemprot.
Pada kasus pemupukan untuk
pertumbuhan daun, gunakan pupuk organik cair yang banyak mengandung nitrogen.
Caranya adalah dengan membuat pupuk dari bahan baku kaya nitrogen seperti
kotoran ayam, hijauan dan jerami. Sedangkan pada kasus pemupukan untuk
pertumbuhan buah, gunakan bahan baku pupuk yang kaya kalium dan fosfor, seperti
kotoran kambing, kotoran sapi, sekam padi dan dedak. Kandungan setiap jenis
material organik bisa dilihat di tabel berikut.
Secara sederhana bisa dikatakan,
untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan sumber bahan organik dari jenis
daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang buah gunakan bahan
organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-buahan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil
pembahasan mengenai Pupuk Cair maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa pupuk
cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari
sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari
satu unsure.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Proses Pembuatan Pupuk Organik Cair antara lain ukuran bahan,
komponen bahan, suhu atau Temperatur dan Keasaman (pH)
Limbah ternak berupa feses dan urine
mengandung nitrogen dan fosfor yang sangat tinggi. Kandungan ini dibutuhkan
oleh tumbuhan sehingga dijadikan bahan dasar pembuatan pupuk cair. Secara
kimiawi pupuk organik yang baik mengandung beberapa unsur hara seperti Nitrogen
(N) = 1.5 – 2%, fosfor (P205) = 0,5 – 1% dan kalium (K20)
= 0,5 – 1%
Daftar Pustaka
Djaja. 2008. Pengelolaan
Limbah Ternak (Feces) Sapi Dengan Menggunakan Em-4 Dan Stardec. www.katobengke.com. Diakses, 18
April 2009.
teknologi kompos.
Diakses, 18 April 2009.
3.Indriani. 2003. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Isroi. 2008. Kompos.
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia,
Novizan. 2002. Membuat Kompos. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Nurhidayat. 2006. Fungsi dan Manfaat EM-4. http://nita/agronomy
agriculture/fungsi_manfaat_EM-4.htm. Diakses, 19
April 2009.
5.http://gintingchemicalengeneeringa2.blogspot.co.id/2014/04/pembuatan-pupuk-cair-organik.html
Langganan:
Postingan (Atom)
